Bertemu di Batas Mimpi

 Bertemu di Batas Mimpi


Malam hari yang sunyi.

Di kamar kecil, seorang gadis sedang tertidur pulas di kasur empuknya. Namanya Luna, gadis yang dikenal pendiam dan jarang berbicara. Di sekolah, ia hanya lewat begitu saja; orang-orang tahu ia ada, namun Luna seperti bayangan yang berjalan tanpa bisa disentuh.


Setiap hari, Luna pulang ke rumah yang sepi—rumah yang hanya diisi suara detak jam dinding yang terus berdetak setiap detik. Ibu dan ayahnya telah lama meninggal sejak ia berusia sepuluh tahun. Setiap malam, Luna tidur dengan perasaan kosong dan hampa di dadanya.


Namun malam itu berbeda.


Begitu Luna memejamkan mata, ia tidak sekadar tertidur lelap. Ia merasa seolah jatuh—jatuh ke dalam mimpi yang aneh. Saat membuka mata, Luna mendapati dirinya berada di tempat yang terasa asing: sebuah danau yang begitu luas, langit malam yang terang oleh ribuan bintang, dan udara yang hangat meski sunyi.


“Ini… mimpi?” gumam Luna sambil melangkah menyusuri tepi danau.

“Kenapa aku bisa di sini? Tapi... tempat ini begitu tenang.”

“Hei, kamu di sini juga?” terdengar suara laki-laki dari belakang.

Luna tersentak dan berbalik cepat. “Si-siapa kamu?” tanyanya waspada.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki tampan, seumuran dengannya—mungkin enam belas atau tujuh belas tahun.


Laki-laki itu tersenyum kecil. “Haha, tenang saja. Aku nggak akan menyakitimu kok.”

“Nama kamu siapa?” tanyanya lagi.

“Eum… Luna. Namaku Luna,” jawabnya canggung, masih menatap penuh curiga. “Sebenarnya ini tempat apa? Apa kamu yang menculikku ke sini?”


Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak. “Menculik? Ahahaha! Mana bisa aku menculik seseorang ke dalam mimpi!”

“Ih, apaan sih? Aku kan nggak tahu! Tiba-tiba udah di sini aja!” seru Luna malu.


Tawanya mereda. Ia menatap permukaan danau yang berkilau. “Tempat ini biasanya muncul untuk orang-orang yang sedang kesepian. Dan sepertinya… kita sama.”

“Sama-sama kesepian,” lanjutnya pelan.

Luna terdiam. Kata-kata itu terasa menembus dadanya.

“Ehm… iya,” gumamnya lirih. “Aku memang kesepian. Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil. Aku hidup sendiri, dan… aku nggak punya teman.”

Laki-laki itu bangkit, lalu menepuk bahu Luna lembut. “Ayo, duduk di bawah pohon itu. Cerita aja, di sini kamu boleh tertawa, menangis, apa pun yang kamu mau.”

Mereka duduk di bawah pohon di tepi danau. Angin berembus lembut, dan waktu terasa berhenti. Luna mulai bercerita—tentang kehidupannya, tentang kesendirian, bahkan hal-hal kecil yang ia pendam selama ini. Laki-laki itu mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum, sesekali menatap langit.

Malam terasa panjang, dan untuk pertama kalinya, Luna merasa tidak sendirian.

Namun perlahan rasa ingin tahunya tumbuh. Ia menatap laki-laki itu dan bertanya, “Hei, aku belum tahu namamu. Aku sudah bilang namaku. Sekarang giliran kamu.”

Laki-laki itu tampak gugup. “Kalau aku kasih tahu namaku, kamu mau apa?”

“Ya biar aku tahu aja. Siapa tahu kita bisa ketemu di dunia nyata juga.”

“Hmm…” ia menghela napas panjang. “Namaku Arya. Kalau kamu ingin tahu, aku tinggal di Jalan Kenari.”

Ia menunduk, suaranya melemah. “Tapi kalau kamu mencariku… mungkin kita nggak bisa bertemu lagi di mimpi.”

“Maksudmu apa, Arya?” tanya Luna.

Arya membuka mulut, hendak menjawab, namun tiba-tiba cahaya bulan memantul kuat di permukaan danau. Segalanya silau. Sosok Arya memudar perlahan.

Saat Luna membuka mata, ia sudah berada di kamarnya sendiri.

Detak jam dinding terdengar pelan.

Arya belum sempat menjelaskan maksudnya… pikir Luna.

Jantungnya berdebar, dan rasa penasaran itu menempel di pikirannya. Untungnya hari itu hari Minggu—ia tidak harus ke sekolah.

“Kalau begitu, aku harus ke Jalan Kenari,” katanya sambil menatap kalender di samping kasur.

Setelah mandi dan bersiap, Luna menutup pintu rumahnya pelan dan memulai perjalanan. Sambil melihat peta di ponselnya, ia mengeluh kecil, “Jauh juga… kenapa aku jalan kaki, ya?”

Beberapa jam kemudian, ia tiba di tempat itu. Jalan Kenari ternyata gang kecil yang sepi, dengan deretan rumah tua berdinding kayu. Di ujung jalan, berdiri satu rumah besar yang tampak mewah tapi suram—cat dindingnya memudar, dan jendela-jendelanya tertutup debu.


“Ini rumahnya…?” gumam Luna ragu.


Saat ia berdiri di depan pagar, seorang nenek keluar dari rumah sebelah.

“Mencari siapa, Nak?” tanyanya ramah.

“Permisi, Nek. Saya mencari seseorang bernama Arya. Katanya dia tinggal di sini.”

Wajah sang nenek langsung berubah sendu. Ia menatap rumah tua itu lama, lalu berkata pelan,

“Nak Arya sudah nggak ada. Dia meninggal enam bulan lalu karena kecelakaan.”


Luna membeku. Kata-kata itu seperti menggema di kepalanya.

“Sudah… meninggal?”

Nenek itu mengangguk pelan. “Iya, sayang. Rumah ini dulu rumahnya.”

Luna menunduk, matanya panas. “T-terima kasih, Nek…” suaranya hampir hilang. Ia berpamitan pelan dan melangkah pergi dengan langkah berat.

Sepulangnya, Luna duduk di tepi kasur. Matanya kosong, pikirannya kembali ke danau itu—ke tawa Arya, ke cahaya bulan, ke ucapan terakhirnya.

Mungkin itu yang ingin dia katakan, pikir Luna. Bahwa dia sudah tiada.

Malam berikutnya, Luna tidur dengan perasaan berat. Ia berharap bisa kembali ke mimpi itu, tapi danau itu tidak muncul lagi.

Hari-hari berlalu. Rasa sedih itu perlahan berubah menjadi tenang. Luna mulai membuka diri, mencoba berbicara dengan teman sekelasnya, tersenyum lebih sering.

Ia mulai menulis diari tentang mimpinya tentang Arya, tentang danau, tentang percakapan mereka yang terasa nyata.

Suatu sore, Luna pergi ke taman dekat rumah. Ia melihat langit jingga dan angin sore berembus pelan. Di atas langit, seekor burung terbang rendah, dan sesaat, ia mendengar gema tawa yang sangat familiar di dalam hatinya.

Ia tersenyum.

“Terima kasih, Arya. Karena kamu, aku nggak kesepian lagi.”

Langit sore memudar menjadi malam. Di antara gemerlap bintang, seolah danau itu masih ada tempat di mana dua jiwa yang tak sempat bertemu di dunia nyata… bertemu di batas mimpi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Eloh Gue End!!! – Sepocong Kisah Kunti